Memandang Jakarta

Jakarta. Kotanya riuh bergemuruh. Gedung-gedung menjulang tinggi setinggi MONAS.

Padat kotanya. Pejalan kaki tak lagi dapat tempat. Polusi tak terhindarkan.

Setiap orang bekerja keras. Memeras keringat, memendam harap, mengepul rupiah. Perut tak lagi lapar?

Tak semua harap terwujud. Sebagian dari mereka harus makan seadanya. Tak peduli makan dimana.  Asal perut kenyang itu sudah cukup!

Bersenang-senang salah satu cara. melupakan segala kepenatan. Namun, tetap tak bisa menafikan sekeliling kita!

Inilah Jakarta! Kota yang pernuh warna. Menggambarkan Jakarta teringat ungkapan seorang kawan saat pertama kali menginjakkan kaki disini, dia bilang ” Welcome to the jungle!”. [Aulia Rachman]

Berbagi Kelas

Selama kurang lebih dua tahun Siswa-siswa kelas satu dan dua SD Negeri Binakal Kab. Bondowoso berada dalam satu kelas dan hanya dibatasi oleh sekat yang terbuat dari triplek, senin (06/02). Hal ini disebabkan oleh kelas yang dimiliki tidak mencukupi unntuk menampung semua siswa. Pihak sekolah telah berulang kali mengajukan bantuan terkait penambahan kelas namun, hingga kini masih belum mendapat bantuan dari pemerintah. [Aulia Rachman]

Pagelaran Reog Ponorogo

Dalam rangka Dies Natalies ke-47 Universitas jember (10/11/2011) diramaikan oleh pagelaran reog ponorogo. Pagelaran reog ponorogo tersebut di ramaikan komunitas reog ponorogo yang ada di wilayah Besuki dan di koordinir oleh UKM Reog Universitas Jember. Dalam acara dimainkan 13 dadak merak yang tampil secara bersama-sama. [Aulia Rachman]

Sekotak Korek Hidupi Sekeluarga

Ikhwan Syahyudi(42), warga Desa Wonorejo, Lumajang, Jawa Timur, sedang menyelesaikan miniatur becak yang terbuat dari korek api. Dari korek api tersebut ikhwan dapat membuat beberapa miniatur seperti, Vespa, pigora foto, pos kamling dan banyak lagi. Miniatur buatan Ichwan ini dijual mulai harga Rp 10.000 hingga ratusan ribu rupiah, tergantung ukuran dan tingkat kesulitannya. Dari usaha kerajinan ini ikhwan juga dapat menghidupi keluarganya. [Aulia Rachman]

SMS Dari Bapak

Seorang anak menunjukkan pada ibunya pesan singkat (SMS) dari sang ayah. Perkembangan Telekomunikasi beberapa tahun terakhir banyak memberi kemudahan bagi setiap orang untuk dapat berkomunikasi walau terbentang jarak yang cukup jauh, apalagi kini industri seluler telah mampu menjangkau daerah-daerah terpencil. Begitupula seorang anak yang ibunya bekerja sebagai pengerajin sangkat tersebut, sangat mudah menguhubungi ayahnya yang bekerja menjadi penjual sangkar burung di Yogyakarta. [Aulia Rachman]

Return to top